Malam ini, tepat tengah malam, Queesha duduk termenung memandangi langit yang bertabur bintang. Sebentar lagi pagi akan tiba dan hari akan berganti. Seperti malam-malam sebelumnya, Queesha mengenang masa-masa indahnya bersama sahabat karibnya yang bernama Reva.

Sejak kecil Queesha dan Reva selalu bermain bersama. Mereka melewati masa kecil mereka dengan penuh kegembiraan dan kebersamaan. Mereka memiliki kegemaran yang sama, yaitu bersepeda dan melihat bintang. Tak jarang mereka menghabiskan malam bersama dengan menatap keindahan bintang yang menghiasi langit malam. Mereka juga sering bersepeda bersama-sama. Namun semua itu hanya tinggal sebuah kenangan indah bagi Queesha.

Reva telah pergi jauh dan Queesha tidak pernah lagi bertemu dengannya. Reva pergi tanpa sepatah kata atau pun ucap perpisahan. Sakit rasanya kehilangan orang yang berharga dalam hidup. Kini, Queesha hanya bisa menangis setiap kali menatap langit malam dan mengenang saat-saat mereka bersama. Queesha selalu memohon pada Tuhan dan berharap agar mereka bisa bertemu kembali.

Suatu malam, seperti biasa, Queesha menatap keindahan bintang dilangit malam sambil merasakan sejuknya angin malam yang cerah di teras lantai dua rumahnya. Tiba-tiba mata Queesha tertuju pada sesosok bayangan yang muncul dibawah cahaya bulan. Cahaya bulan yang memantul lewat besi sepedanya, cukup menyilaukan Queesha dan menyadarkan Queesha akan kehadirannya. Sambil mendorong sepedanya, orang itu berjalan sambil menatap Queesha dan kemudian berlalu.

Sejenak, Queesha tertegun. Queesha tidak dapat menahan air matanya. Dalam hatinya dia berpikir bahwa Tuhan sedang mempermainkannya. Dia tidak percaya akan apa yang dilihatnya. Tak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa dia dapat kembali bertemu dengan sahabat yang telah lama menghilang dan amat dia rindukan. Queesha merasa mengenal orang itu. Orang itu sungguh tak asing baginya. Walau pun samar, namun Queesha yakin bahwa dia megenal orang tersebut.

Queesha bergegas turun dari teras dan menuju kearah sosok tersebut yang terus melangkah pergi. Queesha sangat yakin bahwa baru saja dia melihat Reva. Dia benar-benar sedih melihat Reva menjadi sosok yang dingin. Queesha sadar bahwa Reva melihatnya, namun Reva tidak mengucapkan sepatah kata. Bahkan Reva tidak tersenyum dan berlalu begitu saja. Apa yang telah terjadi? Apa yang telah mengubah Reva? Queesha benar-benar tidak dapat menahan air matanya.

“Reva, apa kau sudah lupa padaku?” teriak Queesha.

Namun Reva tetap tidak menjawab dan terus berjalan mendorong sepedanya. Sosok Reva pun segera menghilang, ditelan kegelapan malam, dia berjalan semakin jauh meninggalkan Queesha. Queesha segera mengambil sepedanya yang tergeletak didepan rumah dan mengejar Reva.

Queesha mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi dan penuh harapan untuk bertemu kembali dengan sahabatnya. Queesha terus mengayuh sampai menemukan Reva. Namun kali ini Reva tidak lagi mendorong sepedanya, dia mengayuh sepedanya. Queesha pun bergegas menuju kesamping Reva untuk memastikan dirinya bahwa orang itu adalah Reva. Ternyata dia benar, orang itu adalah Reva, sahabat lamanya.

Tiba-tiba Reva mengayuh sepedanya lebih cepat. “Reva tunggu!!”, sahut Queesha sambil mengejar Reva.

Reva sungguh amat cepat, Queesha tidak akan dapat mengejar Reva jika dia tidak mempercepat langkahnya. Queesha pun mempercepat kayuhannya dan menyusul Reva. Queesha mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba dari samping Queesha ada seseorang yang menyusul Queesha dan menghalangi jalannya. Queesha segera menghentikan laju sepedanya. Kilau cahaya bulan yang terpantul lewat besi sepeda orang itu membuat Queesha tak dapat melihat wajah orang itu. Tak lama kemudian, terdengar suara orang yang terpelanting keras. Queesha segera tersadar dan berlari menuju arah suara itu dan dia menemukan Reva tergeletak berlumuran darah disana.

Queesha segera berlari menghampiri Reva. Namun tiba-tiba dari belakang, seseorang menarik baju Queesha agar Queesha tidak menghampiri Reva.

“Jangan Queesha” sahut orang itu.

Queesha segera mengenali suara itu. Suara Reva. Queesha segera menoleh kearah suara itu.

“Reva?” sahut Queesha.

Orang itu sama sekali tidak menjawab dan hanya tersenyum.

“Reva!!” panggil Queesha sambil menangis dan menghampiri Reva dan memeluknya sambil menangis.

“Kenapa kamu pergi begitu saja? Tahukah kamu kalau aku sangat merindukanmu disini?”, tanya Queesha.

Namun orang itu kembali membisu dan tersenyum kemudian menghilang bagai ditelan oleh malam.

Queesha bagaikan kehilangan kesadaran, pandangannya menghilang dan dia terjatuh. Begitu tersadar dia telah berada dikamarnya dan hari telah pagi.

Perlahan dia membuka matanya dan memandang kesekeliling kamarnya.

“Apakah aku hanya bermimpi? Namun mengapa semua terlihat begitu nyata?”, gumamnya.

Perlahan, dia menapakkan kakinya dan dia berjalan keluar. Dia menuju teras dan merenggangkan semua otot-ototnya. Tiba-tiba matanya tertuju pada satu arah. Sepedanya. Dia ingat bahwa dia tidak meletakkan sepedanya didalam rumah, terlebih lagi dia melihat ada yang aneh dengan sepeda itu. Dia ingat, kalau dia telah mencuci sepeda itu. Namun sepeda itu terlihat kotor, seperti telah digunakan oleh seseorang.

Dia sangat yakin, ayah dan ibunya tidak mungkin menggunakan sepeda tersebut, karena ayahnya sedang dinas keluar negeri dan ibunya tidak dapat mengendarai sepeda. Dan dikeluarga ini, dia adalah anak tunggal.

Merasa ada sesuatu yang aneh, dia segera turun. Kemudian dia mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Dia pun bergegas menuju tempat Reva jatuh. Namun dia tidak menemukan apa-apa. Namun tempat ini tak asing baginya. Di tempat ini tertinggal sebuah kenangan. Kenangan yang tidak akan pernah dia lupakan.

Queesha terdiam sejenak memandang sekeliling, merasakan udara yang ada disekitarnya. Tak lama kemudian, Queesha menutup matanya. Menghirup udara yang berhembus. Merasakan belaian angin yang membelai kulitnya dengan lembut. Perlahan tapi pasti, Queesha menangis seperti hari itu. Hari dimana dia berpisah dengan sahabatnya.

“Reva. Aku tidak tahu, harus bagaimana? Apa yang harus aku perbuat? Aku benar-benar berharap kita bisa bertemu kembali, bermain dan tertawa bersama. Banyak hal ingin aku ceritakan. Banyak hal ingin aku bagi bersamamu. Namun mungkin semua itu hanya mimpi bagiku. Namun aku ingin kau tahu, bahwa persahabatan kita akan abadi selamanya”, ucap Queesha dengan penuh kesedihan.

“Apakah kau mendengarku? Bisakah kau mendengarku? Aku ingin sekali mendengar suaramu. Aku benar-benar ingin bertemu kembali dengan mu” harap Queesha.

“Mengapa kau pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam perpisahan? Tanpa sepatah kata? Kenapa kau pergi begitu saja?”, teriak Queesha.

Tempat ini adalah tempat dimana Reva meninggal sepuluh tahun lalu karena jatuh dari tikungan dan menabrak pembatas jalan karena tidak dapat menghentikan laju sepedanya. Saat itu, Queesha dan Reva sedang berlomba menuju kerumah. Namun sungguh malang nasib Reva, rem sepedanya tidak dapat digunakan. Reva mati seketika karena kepalanya terbentur keras. Dia mati berlumuran darah. Hari itu menjadi hari terakhir Queesha bertemu dengan Reva.

Queesha tahu bahwa sahabat terbaiknya telah menyelamatkan nyawanya tadi malam. Dialah yang telah menolong Queesha agar tidak melaju lebih jauh lagi.

Seandainya Reva tidak menghentikannya, maka Queesha pasti sudah tidak berdiri disini sekarang. Walau pun Reva telah berada jauh disana, namun Reva pasti tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Queesha.

Persahabatan dua anak manusia yang tak terpisahkan oleh dunia. Walau pun mereka tidak lagi berada didunia yang sama dan Reva tidak lagi dapat menemani Queesha, namun Reva akan selalu menjaga Queesha dari sana dan Reva akan selalu ada didalam hati Queesha dan menjadi sebuah kenangan yang takkan dia lupakan sampai dia bisa kembali bertemu dengan Reva.

Inilah makna sahabat yang sesungguhnya, sahabat yang tidak akan terpisahkan oleh waktu dan dimensi. Sahabat yang selalu ada dalam hati dan selalu ada saat kita sedang jatuh terpuruk. Walau pun tanpa sebuah kata, namun kehadirannya selalu dapat menjadi sebuah harta yang tak ternilai. Tidak hanya dikala senang, bahagia, gembira maupun sukacita, tapi disaat kita merasa kesepian, sendiri, sakit, sedih, susah, terbelit masalah dan semacamnya Sahabatlah yang menghapus segala belenggu yang membelit kita laksana malaikat kiriman dari Yang Maha Kuasa…






Friends Myspace Comments
MyNiceSpace.com