Peranan Bahasa Indonesia dalam Konsep Ilmiah

  1. Pendahuluan

Bahasa merupakan kunci untuk membuka wawasan dan  pengetahuan. Hanya dengan bahasalah kita dapat menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Walaupun bahasa Indonesia sudah berperan sebagai alat persatuan tetapi belum dapat berperan sebagai pengantar ilmu pengetahuan. Hal tersebut mengharuskan kita menerjemahkan semua buku ilmu pengetahuan di dunia ini ke dalam bahasa Indonesia. Dengan adanya informasi ilmiah dalam bahasa Indonesia tersebut, pasti akan ada kemajuan di bidang ilmu pengetahuan yang berarti meningkatkan mutu bahasa indonesia sebagai bahasa ilmiah. Bahasa dipakai sebagai alat mengungkap gagasan dan pikiran. Dengan begitu bahasa adalah alat komunikasi sekaligus alat untuk memahami isi dari komunikasi itu sendiri. Komunikasi antar-orang, termasuk komunikasi ilmuwan terhadap fenomena alam dan fenomena kebudayaan.

Manusia menggunakan bahasa sesuai dengan yang dia ketahui dan yang dirasakan guna menyampaikan gagasan atau menerima gagasan, pemberitahuan, keluh-kesah, pernyataan menghormat, bersahabat, atau pernyataan permusuhan dari orang lain. Siapa dia berkomunikasi dengan siapa, tentang hal apa, di mana, untuk tujuan apa dengan cara bagaimana. Dengan demikian, cara orang mengekspresikan gagasan terkait dengan masalah-masalah di luarnya seperti kesadaran atas status sosial dan tradisi yang berlaku dan diberlakukan. Lewat bahasa yang diketahui, gagasan dan pikiran diformulasi menjadi serangkaian konsep kebahasaan. Konsep bisa berupa kata atau istilah (construct). Kursi misalnya, adalah kata yang artinya “tempat duduk”. Karena berarti demikian maka kursi difungsikan untuk diduduki, tidak dipanggul. Kalau dipanggul, pasti ada penjelasan lain, misalnya dilakukan oleh sejumlah kuli-kasar untuk dibawa masuk ke rumah, ke mobil cup terbuka. Karena kursi berfungsi sebagai tempat duduk, maka muncul makna baru dari kata kursi itu, misalnya kedudukan. Misalnya adanya ungkapan: “Para anggota DPR (mohon maaf untuk tidak dibaca wakil-wakil rakyat) bersitegang untuk memperebutkan kursi ketua komisi. Kata “kursi” di sini merupakan kata lain dari “kedudukan sebagai”. Sedang bersitegang adalah suasana yang muncul dengan tanda-tanda tertentu, misalnya saat berbicara tangannya digebrakkan ke meja, atau berbicara sambil merebut mik ketua sidang dsb.

Bahasa Indonesia dikenal sebagi bahasa aglutinatif. Artinya, kosakata dalam bahasa Indonesia dapat ditempeli dengan bentuk lain, yaitu imbuhan. Imbuhan mengubah bentuk dan makna bentuk dasar yang dilekati imbuhan itu .Karena sifat itulah, imbuhan memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan kata bahasa Indonesia. Dengan demikian, sudah selayaknyalah, sebagai pemakainya kita memiliki pengetahuan mengenai ini.Kemampuan berbahasa yang baik dan benar merupakan persyaratan mutlak untuk melakukan kegiatan ilmiah karena bahas merupakan sarana komunikasi ilmiah pokok. Tanpa penguasaan tata bahasa dan kosakata yang baik akan sulit bagi seorang ilmuan untuk mengkomunikasikan gagasannya kepada pihak lain. Dengan bahasa selaku alat komunikasi, kita bukan saja menyampaikan informasi tetapi juga argumentasi, dimana kejelasan kosakata dan logika tata bahasa merupakan persyaratan utama.

  1. Karya Tulis Ilmiah

Karya tulis ilmiah atau akademik menuntut kecermatan dalam penalaran dan bahasa. Dalam hal bahasa, karya tulis semacam itu (termasuk laporan penelitian) harus memenuhi ragam bahasa standar (formal) atau bukan bahasa informal atau pergaulan.Ragam bahasa karya tulis ilmiah atau akademik hendaknya mengikuti ragam bahsa yang penuturnya adalah terpelajar dalam bidang ilmu tertentu. Ragam bahasa ini mengikuti kaidah bahasa baku untuk menghindari ketaksaan atau ambigiutas makna karena karya tulis ilmiah tidak terikat oleh waktu. Dengan demikian, ragam bahasa karya ilmiah sedapat-dapatnya tidak mengandung bahasa yang sifatnya kontekstual seperti ragam bahasa jurnalistik. Tujuannya agar karya tersebut dapt tetap dipahami oleh pembaca yang tidak berada dalam situasi atau konteks saat karya tersebut diterbitkan. Masalah ilmiah biasanya menyangkut hal yang sifatnya abstrak atau konseptual yang sulit dicari alat peraga atau analoginya dengan keadaan nyata. Untuk mengungkapkan hal semacam itu, diperlukan struktur bahasa keilmuan adalah kemampuannya untuk membedakan gagasan atau pengertian yang memang berbeda dan strukturnya yang baku dan cermat. Dengan karakteristik ini, suatu gagasan dapat terungkap dengan cermat tanpa kesalahan makna bagi penerimanya.

Penulisan ilmiah merupakan sebuah karangan yang bersifat fakta atau real yang ditulis dengan menggunakan penulisan yang baik dan benar serta ditulis menurut metode yang ada.

Terdapat beberapa jenis penulisan ilmiah yang dapat di kategorikan sebagai berikut :

Ø Makalah

Karya tulis yang menyediakan permasalahan dan pembahasan sesuai dengan data yang telah di dapatkan di lapangan dengan objektif.

Ø Kertas Kerja

Pada umumnya kertas kerja hamper sama dengan makalah akan tetapi kertas kerja digunakan untuk penulisan local karya atau seminar serta lebih mendalam dari makalah.

Ø Laporan Praktik Kerja

Karya ilmiah yang memaparkan fakta yang di temui di tempat bekerja yang digunakan untuk penulisan terakhir jenjang diploma III (DIII).

Ø Skripsi

Merupakan karya ilmiah yang mengemukakan pendapat orang lain dan data yang telah di dapat di lapangan yang digunakan untuk mendapat gelar S1 :

  1. Langsung (observasi lapangan)
  2. Skripsi
  3. Tidak langsung (studi kepustakaan)

Ø Tesis

Karya ilmiah yang bertujuan untuk melakukan pengetahuan baru dengan melakukan peneluitian penelitian terhadap hasil hipotesis yang ada.

Ø Disertasi

Karya tulis untuk mengungkap dalil baru yang dapat dibuktikan berdasarkan fakta yang realistis dan data yang relefan serta objektif.

Dalam menulis karya ilmiah sebaiknya menggukan kata-kata atau kalimat yang sesuai dengan kaidah dan bahasa yang penuturannya terpelajar dengan bidang tertentu, ini berguna untuk menghindari ketaksaan atau ambigu makna karna karya ilmiah tidak terikat oleh waktu. Dengan demikian, ragam bahasa penulisan karya ilmiah tidak mengandung bahasa yang sifatnya konstektual,

Oleh karena itu, pengajar perlu memperhatikan kaidah yang berkaitan dengan pembentukan istilah, Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI) yang dikeluarkan oleh pusat pembinaan bahasa Indonesia merupakan sumber yang baik sebagai pedoman dalam memperhatikan hal-hal tersebut. Dan juga tanda baca yang tepat untuk di setiap kalimat yang dimuat dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)

Ada yang menyebutkan beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam karya tulis ilmiah berupa penelitian yaitu :

  1. Bermakna isinya
  2. Jelas uraiannya
  3. Berkesatuan yang bulat
  4. Singkat dan padat
  5. Memenuhi kaidah kebahasaan
  6. Memenuhi kaidah penulisan dan format karya ilmiah
  7. Komunikasi secara ilmiah

Aspek komunikatif (keefektifan) hendaknya dicapai pada tingkat kecanggihan yang diharapkan dalam komunikasi ilmiah. Oleh karena itu, karya ilmiah tidak selayaknya membatasi diri untuk menggunakan bahasa (struktur kalimat dan istilah) popular khususnya untuk komunikasi antar ilmuan. Karena makna symbol bahasa harus diartikan atas dasar kaidah baku, karya ilmiah tidak harus mengikuti apa yang nyatanya digunakan atau popular dengan mengorbankan makna yang seharusnya. Bahasa keilmuan tidak selayaknya mengikuti kesalahkaprahan.

Pemenuhan kaidah kebahasaan merupakan ciri utama dari bahasa keilmuan. Oleh karena itu, aspek kebahasaan dalam karya ilmiah sebenarnya adalah memanfaatkan kaidah kebahasaan untuk mengungkapkan gagasan secara cermat. Kaidah ini menyangkut struktur kalimat, diksi, perangkat peristilahan, ejaan, dan tanda baca.

  1. MENYUSUN KARYA TULIS ILMIAH

Topik adalah pokok masalah yang akan dibahas dengan syarat berikut ini:

Problematis artinya menuntut pemecahan masalah, tidak hanya membicarakan sesuatu tetapi harus mencari pemecahan masalah. Dengan kata lain, sebuah topik tidak hanya dideskripsikan, tetapi dianalisis dan dicari solusinya sampai pada akhirnya ditegaskan pada simpulan dan bila perlu diusulkan dengan saran. Misalnya, topik pengembangan industri kayu. Di sini kita tidak hanya berbicara apa dan bagaimana perkembangan industri kayu itu. Akan tetapi, kita harus mencari upaya apa yang harus ditempuh untuk mengembangkan industri kayu sebagai salah satu kegiatan ekonomi masyarakat.

Terbatas maksudnya pokok bahasan tidak terlalu melebar jauh sehingga penulis tidak mungkin mengkajinya dan data tak mungkin diperoleh. Topik yang terlalu luas harus dibatasi dengan pembatasan substansi, lokasi, waktu dsb. Misalnya, urusan penanggulangan pencemaran harus dibatasi pencemaran apa , misalnya, limbah, lalu limbah apa misalnya limbah rumah sakit. Pada judul dapat dibatasi lagi dengan menambahkan lokasinya dimana. Dengan pembatasan demikian, penulis dapat mengkaji dan membahas masalah tersebut secara mendalam dan tuntas dengan data yang jelas dapat diperoleh. Dengan demikian, karangan itu memenuhi salah satu ciri karangan ilmiah.
Syarat lain yang tak kurang pentingnya adalah topik itu menarik, penting, aktual, dan data dapat diperoleh baik data literatur maupun lapangan.

Tema adalah topik yang sudah jelas mengandung tujuan. Contoh: jika topik penanggulangan pencemaran udara disertai tujuan menanggulangi pencemaran udara dengan mengurangi emisi kendaraan bermotor maka temanya : penanggulangan pencemaran udara melalui pengurangan emisi kendaraan bermotor

Dari topik dan tema dapat diangkat menjadi judul karangan ilmiah. Judul karangan ilmiah  harus memenuhi syarat (a) menggambarkan isi, (b) singkat, (c) menarik minat pembaca, dan (d) tidak provokatif.

Contoh :

Upaya menurunkan risiko bahaya gempa bumi.

  1. Tata Bahasa

1)                  Bahasa Indonesia Benar dengan Baik

Bahasa yang digunakan akan dikatakan baik jika maksud yang diungkapkan dapat dipahami dengan tepat oleh orang yang menerima bahasa tersebut. Dengan kata lain, bahasa yang baik adalah bahasa vang efektif dalarn menvampaikan suatu maksud. Bahasa vang baik tidak selalu harus ragam baku. Keefektifan komunikasi lebih banyak ditentukan oleh keserasian bahasa itu dengan situasinva (waktu. tempat. dan orang yang diajak bicara). Bisa saja bahasa yang baik itu tidak benar kaidah kaidahnya. Sebaliknya, bahasa vang benar kaidah kaidahnya belum tentu bahasa. vang baik Sebab. misalnva akan janggal kedengarannya bila di kantin kita menggunakan ragam bahasa baku seperti bahasa seorang ilmuwan yang sedang ceramah di dalam suatu seminar. Sebaliknva, akan janggal pula bila seorang ilmuwan yang sedang ceramah di dalam suatu seminar menggunakan bahasa seperti seorang awam yang sedang ngobrol di kantin. Dengan demikian, bahasa yang benar dengan baik  itu adalah bahasa yang sesuai dengan  kaidah dan sesuai dengan situasi.

2)                  Syarat Kebahasaan

1.   Baku
Struktur bahasa yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku baik mengenai struktur kalimat maupun kata. Demikian juga, pemilihan kata/istilah, dan penulisan sesuai dengan kaidah ejaan.

2.   Logis
Ide atau pesan yang disampaikan melalui bahasa Indonesia ragam ilmiah dapat diterima akal.

3.   Kuantitatif
Keterangan yang dikemukakan dalam tulisan dapat diukur secara pasti.

4.   Tepat
Ide yang diungkapkan harus sesuai dengan ide yang dimaksudkan oleh penutur atau penulis dan tidak mengandung makna ganda.

5.   Denotatif
Kata vang digunakan dipilih sesuai dengan arti sesungguhnya dan tidak melibatkan perasaan karena sifat ilmu itu objektif

6.   Ringkas
Ide dan gagasan diungkapkan dengan kalimat pendek sesuai dengan kebutuhan, pemakaian kata seperlunya, tidak berlebihan.

7.   Runtun
Ide diungkapkan secara teratur sesuai dengan urutan dan tingkatannya baik dalam kalimat maupun dalam paragraf.

3)                  EJAAN

Ejaan ialah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi-bunyi ujaran melalui huruf, menetapkan tanda-tanda baca, memenggal kata, dan bagaimana menggabungkan kata. Jadi, bagaimana menuliskan bahasa lisan dengan aturan-aturan tersebut itulah yang berhubungan dengan ejaan. Dari segi bahasa, ejaan adalah kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi bahasa (kata, kalimat) dalam bentuk tulisan (huruf-huruf dan tanda baca).

Lingkup pembahasan dalam ejaan meliputi hal-hal sebagai berikut:

  1. Pemakaian Huruf
  • Huruf abjad: abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf: Aa, Bb, Cc, Dd, Ee, Ff, Gg, Hh, Ii, Jj, Kk, Ll, Mm, Nn, Oo, Pp, Qq, Rr, Ss, Tt, Uu, Vv, Ww, Xx, Yy, Zz.
  • Huruf vokal: a, e, i, o, u.
  • Huruf konsonan: b, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, z.
  • Huruf diftong: ai, au, ai.
  • Gabungan konsonan: kh, ng, ny, sy.

a)                 Huruf Kapital
Huruf kapital tidak identik dengan huruf besar meskipun istilah ini biasa diperlawankan dengan huruf kecil. Istilah huruf kapital digunakan untuk menandai satu bentuk huruf yang karena memiliki fungsi berbeda dalam kata atau kalimat menjadi berbeda dari bentuk huruf lain meskipun secara fonemis sebunyi. Huruf  A (kapital) secara fonemis sebunyi dengan a (kecil), tetapi karena fungsinya berlainan, penampilan grafisnya berbeda.

Huruf kapital digunakan pada:

  1. Huruf pertama kata pada awal kalimat
  2. Huruf pertama petikan langsung
  3. Ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan, kitab suci, termasuk kata ganti
  4. Gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
  5. Nama jabatan, pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
  6. Huruf pertama unsur-unsur nama orang
  7. Huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
  8. Huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa bersejarah.
  9. Huruf pertama nama geografi.

10. Huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata depan atau kata hubung.

11. Huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan,lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.

12. Huruf pertama nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata depan dan kata hubung yang berada di tengah kata.

13. Huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.

14. Huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang dipakai sebagai sapaan.

15. Huruf pertama kata ganti Anda.

b)                 Huruf Miring

Sebuah huruf,  kata, atau kalimat ditulis dengan huruf miring untuk membedakan dari huruf, kata, atau kalimat lain dalam sebuah kata, kalimat, paragraf, atau karangan utuh.  Huruf yang dicetak miring adalah penanda yang mengacu ke beberapa informasi, antara lain sebagai penekanan, kutipan dari bahasa asing, istilah latin, nama penerbitan (koran, majalah, dan lain-lain). Jika ditulis dengan menggunakan mesin tik manual atau tulisan tangan, huruf miring diganti dengan garis bawah. Garis bawah hendaknya ditulis per kata, bukan per kalimat.

Huruf miring digunakan pada:

  1. Menuliskan nama buku, majalah, Koran
  2. Menuliskan istilah asing, daerah, ilmiah yang ditulis dengan ejaan aslinya
  3. Menegaskan huruf, kata, atau frasa yang dipentingkan/dikhususkan

Contoh:
a.    Artikelnya yang berjudul “Perkembangan Sains dan Teknologi di Indonesia” dimuat pada koran Media Indonesia   (Salah)

b.    Artikelnya yang berjudul “Perkembangan Sain dan Teknologi di Indonesia” dimuat pada koran Media Indonesia  (Betul)

2.    Penulisan Kata

Beberapa hal yang termasuk ke dalam pembahasan tentang penulisan kata adalah penulisan (1) kata dasar, (2) kata turunan, (3) bentuk ulang, (4) gabungan kata, (4) kata ganti ku, mu, kau, dan nya, (5) partikel, (6) singkatan dan akronim, dan (7) angka dan lambang bilangan. Kecuali gabungan kata (3), penulisan kata umumnya tidak menimbulkan permasalahan.

Kesalahan penulisan gabungan kata umumnya ditemukan pada istilah khusus yang salah satu unsurnya hanya digunakan dalam kombinasi. Unsur gabungan kata yang demikian sering ditulis terpisah, padahal seharusnya disatukan.

3.    Penulisan Unsur Serapan

Sebagaimana diketahui, bahasa Indonesia diangkat dari bahasa Melayu. Di dalam perkembangannya bahasa ini banyak menyerap dari bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun asing. Bahasa Sunda, Jawa, dan Batak adalah tiga contoh bahasa daerah yang banyak memperkaya bahasa Indonesia. Sementara itu, bahasa asing yang banyak diserap adalah bahasa Belanda, Inggris, Portugis, Sanskerta, Arab, dan Cina.

Kriteria penyerapan bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia secara lebih terperinci bisa dilihat pada diktat kuliah (lampirannya). Secara umum bisa dikatakan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang menulis bunyi. Artinya, pelafalan kita terhadap sebuah kata asing, itulah yang ditulis dalam bahasa Indonesia meskipun tidak sama sebunyi) betul.

4.    Pemakaian Tanda Baca

Kalimat yang baik harus didukung oleh penggunaan tanda baca yang tepat. Para penulis sering tidak memperhatikan hal ini. Akibatnya, masih banyak ditemukan kesalahan dalam pemakaian tanda baca tersebut.

Pemakaian tanda baca dalam kalimat sangat penting bukan hanya untuk ketertiban gramatikal, melainkan juga bagaimana gagasan yang dikemukakan bisa tersampaikan dengan baik. Manusia memahami sesuatu dengan bahasa, tetapi karena bahasa pula manusia bisa salah paham. Pemakaian tanda baca adalah salah satu cara untuk menghindari kesalahpahaman tersebut.

A. Tanda titik dipakai :

  1. Pada akhir kalimat;
  2. Pada singkatan nama orang;
  3. Pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan;
  4. Pada singkatan atau ungkapan yang sangat umum;
  5. Di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, dan daftar;
  6. Untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukan waktu;
    1. Untuk memisahkan angka jam, menit, detik yang menunjukan jangka waktu;

B. Tanda titik tidak dipakai :

  1. Untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang tidak menunjukkan jumlah ;
  2. Dalam singkatan yang terdiri atas huruf–huruf awal kata atau suku kata, atau gabungan keduanya,yang terdapat didalam nama badan pemerintah, lembaga–lembaga nasional atau internasional, atau yang terdapat didalam akronim yang sudah diterima oleh masyarakat.
  3. Di belakang alat pengirim dan tanggal surat, atau nama dan alamat penerima surat.

C. Tanda koma dipakai :

  1. Di antara unsur–unsur dalam suatu perincian dan pembilangan
  2. Untuk memisahkan kalimat setara;
  3. Untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat;
  4. Di belakang kata seru yang terdapat pada awal kalimat;
  5. Di belakang kata atau ungkapan penghubung antara kalimat yang terdapat pada awal kalimat;
  6. Untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain;
  7. Di antara unsur-unsur alamat yang ditulis berurutan;
  8. Untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya;
  9. Di antara nama orang dan gelar akademik;
  10. Di muka angka persepuluhan;
  11. Untuk mengapit keterangan tambahan, atau keterangan aposisi.

D. Tanda titik koma dipakai :

  1. Untuk memisahkan bagian–bagian kalimat yang sejenis dan setara;
  2. Untuk memisahkan kalimat yang setara dalam kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.

E. Tanda titik dua dipakai :

1. Pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian;

2. Sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian;

3. Dalam teks drama sesudah kata yang menunjukan pelaku dalam percakapan;

4. Kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan;

5. Di antara jilid atau nomor dan halaman, di antara bab dan ayat dalam kitab – kitab suci, atau di antara judul dan anak judul suatu karangan (karangan Ali  Hakim, Pendidikan Seumur Hidup : Sebuah Studi, sudah terbit).

F. Tanda hubung (-) dipakai :

1. Untuk  suku–suku kata dasar yang terpisah karena pergantian baris;

2. Untuk menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya;

3. Menyambung unsur–unsur kata ulang;

4. Menyambung huruf kata yang dieja;

5. Untuk memperjelas hubungan bagian–bagian ungkapan;

6. Untuk merangkaikan se- dengan angka, angka dengan –an, singkatan huruf besar dengan imbuhan atau kata;

7. Untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
G. Tanda pisah (–) dipakai :

  1. Untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi
    pelajaran(kemerdekaan bangsa itu – saya yakin akan tercapai – diperjuangkan oleh).
  2. Untuk menegaskan adanya aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas (Rangkaian penemuan ini – evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom – telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta).
  3. Di antara dua bilangan atau tanggal yang berarti ‘sampai dengan’ atau di antara nama dua kota yang berarti ‘ke’ atau sampai (1945 – 1950 :Bandung – Jakarta).

H. Tanda elipsis (. . .) dipakai :

  1. Untuk menggambarkan kalimat yang terputus : Misalnya : Kalau begitu … ya, marilah kita berangkat.
  2. Untuk menunjukan bahwa dalam suatu petikan ada bagian yang dihilangkan :

Misalnya : Sebab-sebab kemerosotan . . . akan diteliti lebih lanjut.

I. Tanda petik (‘. . .’) dipakai :

1. Mengapit petikan langsung;

2. Mengapit judul syair, karangan, dan bab buku apabila dipakai dalam kalimat;

3. Mengapit istilah ilmiah yang masih kurang dikenal.

J. Tanda petik tunggal (‘…’) dipakai :

1. Mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan petikan lain,

Misalnya : Tanya basri, “Kaudengar bunyi ‘kring – kring tadi’?

2. Mengapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan asing,

Misalnya : rate of inflation ‘laju inflasi’.
K. Tanda garis miring (/) dipakai :

  1. Dalam penomoran kode surat,

Misalnya : No. 7/ PK/ 1983 ;

2. Sebagai pengganti kata dan, atau, per atau nomor alamat,

Misalnya: mahasiswa / mahasiswi, hanya Rp 30,00 / lembar, Jalan Banteng V / 6.
L. Tanda penyingkat atau apostrop (‘) dipakai :

Menunjukkan penghilangan bagian kata,

Misalnya : Amin ‘kan kusurati (‘kan =akan) Malam ‘lah tiba (‘lah=telah)

PEMAKAIAN TANDA BACA

A. Tanda titik dipakai :

  1. Pada akhir kalimat;
  2. Pada singkatan nama orang;
  3. Pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan;
  4. Pada singkatan atau ungkapan yang sangat umum;
  5. Di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, dan daftar;
  6. Untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukan waktu;
  7. Untuk memisahkan angka jam, menit, detik yang menunjukan jangka waktu;

B. Tanda titik tidak dipakai :

1. Untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang tidak menunjukkan jumlah ;

2.    Dalam singkatan yang terdiri atas huruf–huruf awal kata atau suku kata, atau gabungan keduanya,yang terdapat didalam nama badan pemerintah, lembaga–lembaga nasional atau internasional, atau yang terdapat didalam akronim yang sudah diterima oleh masyarakat.

3.    Di belakang alat pengirim dan tanggal surat, atau nama dan alamat penerima surat.
C. Tanda koma dipakai :

  1. Di antara unsur–unsur dalam suatu perincian dan pembilangan
  2. Untuk memisahkan kalimat setara;
  3. Untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat;
  4. Di belakang kata seru yang terdapat pada awal kalimat;
  5. Di belakang kata atau ungkapan penghubung antara kalimat yang terdapat pada awal kalimat;
  6. Untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain;
  7. Di antara unsur-unsur alamat yang ditulis berurutan;
  8. Untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya;
  9. Di antara nama orang dan gelar akademik;
  10. Di muka angka persepuluhan;
  11. Untuk mengapit keterangan tambahan, atau keterangan aposisi.

D. Tanda titik koma dipakai :

  1. Untuk memisahkan bagian–bagian kalimat yang sejenis dan setara;
  2. Untuk memisahkan kalimat yang setara dalam kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.

E. Tanda titik dua dipakai :

1. Pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian;

2. Sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian;

3. Dalam teks drama sesudah kata yang menunjukan pelaku dalam percakapan;

4. Kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan;

5. Di antara jilid atau nomor dan halaman, di antara bab dan ayat dalam kitab – kitab suci,atau di antara judul dan anak judul suatu karangan (karangn Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup : Sebuah Studi, sudah terbit).

F. Tanda hubung (-) dipakai :

1. Untuk menyambung suku–suku kata dasar yang terpisah karena pergantian  baris;

2. Untuk menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya;

3. Menyambung unsur–unsur kata ulang;

4. Menyambung huruf kata yang dieja;

5. Untuk memperjelas hubungan bagian–bagian ungkapan;

6. Untuk merangkaikan se- dengan angka, angka dengan –an, singkatan huruf besar dengan imbuhan atau kata;

7. Untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
G. Tanda pisah (–) dipakai :

  1. Untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi
    pelajaran (kemerdekaan bangsa itu – saya yakin akan tercapai – diperjuangkan oleh).
  2. Untuk menegaskan adanya aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas (Rangkaian penemuan ini – evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom – telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta).
  3. Di antara dua bilangan atau tanggal yang berarti ‘sampai dengan’ atau di antara nama dua kota yang berarti ‘ke’ atau sampai (1945 – 1950 :Bandung – Jakarta).

H. Tanda elipsis (. . .) dipakai :

  1. Untuk menggambarkan kalimat yang terputus : Misalnya : Kalau begitu … ya,
    marilah kita berangkat.
  2. Untuk menunjukan bahwa dalam suatu petikan ada bagian yang dihilangkan:

Misalnya : Sebab-sebab kemerosotan . . . akan diteliti lebih lanjut.

I. Tanda petik (‘. . .’) dipakai :

1. Mengapit petikan langsung;

2. Mengapit judul syair, karangan, dan bab buku apabila dipakai dalam kalimat;

3. Mengapit istilah ilmiah yang masih kurang dikenal.

J. Tanda petik tunggal (‘…’) dipakai :

1. Mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan petikan lain,

Misalnya : Tanya basri, “Kaudengar bunyi ‘kring – kring tadi’?

2. Mengapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan asing,

Misalnya : rate of inflation ‘laju inflasi’.
K. Tanda garis miring (/) dipakai :

  1. Dalam penomoran kode surat,

misalnya : No. 7/ PK/ 1983 ;

  1. Sebagai pengganti kata dan, atau, per atau nomor alamat,
    misalnya: mahasiswa / mahasiswi, hanya Rp 30,00 / lembar, Jalan Banteng V / 6.

L. Tanda penyingkat atau apostrop (‘) dipakai :

Menunjukkan penghilangan bagian kata,

Misalnya : Amin ‘kan kusurati (‘kan =akan) Malam ‘lah tiba (‘lah=telah)

5.  Penomoran

Dalam memberikan nomor, harus diperhatikan hal-hal berikut :

  1. Romawi Kecil

Penomoran dengan memakai romawi kecil dipakai untuk halaman judul, abstrak, kata pengantar atau prakata, daftar isi, daftar tabel, daftar grafik, daftar singkatan dan lambang.

2.    Romawi Besar

Angka Romawi besar digunakan untuk menomori tajuk bab (bab pendahuluan, bab teoretis, bab metode dan objek penelitian, bab analisis data, dan bab penutup).

3.    Penomoran dengan Angka Arab
Penomoran dengan angka Arab (0―9) dimulai bab I sampai dengan daftar pustaka.

4.    Letak Penomoran
Setiap penomoran yang bertuliskan dengan huruf kapital, nomor halaman diletakkan atau  berada di tengah-tengah, sedangkan untuk nomor selanjutnya berada di tepi batas (pias) kanan atas.

5.    Sistem Penomoran

Sistem penomoran dengan angka arab mempergunakan sistem dijital. Angka terakhir dalam sistem dijital tidak diberikan titik seperti 1.1 Latar Belakang Masalah, 3.2.2 Sejarah dan Perkembangan PT Telkom. Akan tetapi, bila satu angka diberi tanda titik seperti 1. Pendahuluan, 2. Landasan Teori dll. (dalam makalah). Apabila ada penomoran sistem dijital antara angka Arab dengan huruf, harus dicantumkan titik seperti 3.2.2.a. Sistem penomoran pada dasarnya mengikuti kaidah Ejaan yang Disempurnakan.

Contoh:
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
1.2 Identifikasi Masalah
1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
1.3.2 Kegunaan Penelitian
1.4 Kerangka Pemikiran
1.5 Metode Penelitian
1.6 Rancangan Analisis Data
1.7 Lokasi dan Lamanya Penelitian

  1. Kesimpulan

Pada suatu karya tulis ilmiah, bahasa memegang peranan penting dalam proses penulisan dan penyusunannya. Dalam penyusunan suatu tulisan yang berkonsep ilmiah harus menggunakan bahasa yang baku dan ejaan yang benar serta sistematika penulisan yang terstruktur. Sehingga suatu karya tulis dapat menyajikan suatu informasi yang berkualitas. Bentuk-bentuk karya tulis yang memiliki kaitan dengan penulisan ilmiah yaitu: makalah, skripsi, tesis, dan disertasi.

Dalam pembuatan penulisan ilmiah seperti skripsi, tesis dan disertasi, memiliki penyusunan yang berbeda dengan menyusun suatu tulisan yang bersifat non ilmiah. Suatu karya ilmiah harus menggunakan metode ilmiah dalam pencarian data atau informasi baik itu dilakukan secara langsung atau tidak langsung dalam mendapatkan informasi.

Bahasa yang digunakan pada penulisan ilmiah pada umumnya menggunakan bahasa yang biasanya jarang muncul pada kamus bahasa Indonesia dan bahasa yang dicantumkan pada suatu tulisan ilmiah memiliki suatu arti dan makna dari berbagai bidang ilmu. Contoh kata yang memiliki arti ilmiah yaitu: konservatif, generalisasi, liberal, serta masih banyak lagi kata yang dipakai dalam penulisan ilmiah.

Selain dari segi bahasa dan kata yang digunakan dalam penulisan ilmiah ada berbagai macam faktor yang harus diperhatikan dalam penyusunan. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam penulisan ilmiah yaitu:

  1. Gunakanlah kata yang umum dikenal.
  2. Gunakan kalimat yang sederhana sehingga karya tulis dapat mudah dimengerti dan dipahami.
  3. Gunakan tata bahasa serta ejaan yang disempurnakan (EYD), dimana harus diakhiri dengan tanda titik dan koma.
  4. Gunakan bahasa yang singkat, padat  dan jelas.
  5. Sumber atau informasi digunakan dalam pembuatan penulisan ilmiah harus dicantumkan.

Setelah memperhatikan dalam segi penulisan penggunaan tata bahasa maka dalam penulisan ilmiah ditambahkan suatu kesimpulan yang berisikan apa saja yang dikerjakan dalam penyusunan karya tulis dari tahap awal sampai akhir. Dengan demikian bahasa Indonesia sangat berperan dalam penyusunan karya tulis yang memiliki konsep ilmiah.

Sumber :

http://ai3.itb.ac.id/~basuki/usdi/TPB-kuliah/materi/…/tatatuliskaryailmiah.ppt

http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/06/agus_buku_ajar.pdf

http://www.iphin-kool.co.cc/2009/04/peran-dan-fungsi-bahasa-indonesia-dalam.html

http://inparametric.com/bhinablog/download/Bahasa1W.pdf

http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/06/agus_buku_ajar.pdf