Semalam Aku memutuskan untuk segera meraih mimpi indahku tanpa harus memikirkan cafeku. Meski mungkin makanan di game itu sudah matang, tapi tak mengapa pikirku, karena makanan itu akan busuk jika waktu matangnya lewat dari dua kali dari waktu memasaknya. Terakhir aku memasak tandori chicken dan lama memasaknya 1 hari. Jadi ya masih ada 1 hari lagi baru makanan itu baru busuk atau lebih tepatnya hangus dan dilalati.

Sambil beranjak dari tempat tidurku kulihat mukaku di cerimn apakah ada tanda – tanda alergi lanjutan dari kejadian kemarin (untuk jelasnya lihat cerita “Berawal dari Sekotak Coklat”). Tapi tida ada tanda – tanda aneh tapi muka ini terasa kasar dan seperti memakai masker terasa kaku. Sambil kugerakan mukaku ke semua arah  dengan mulut di monyong – monyongkan selama beberapa menit dan sesekali lebih mendekat ke cermin, aku memastikan tidak ada sesuatu aneh dimuka ini. Setelah yakin dan sedikit berharap aku segera bersiap–siap berangkat kuliah.

Hari ini jadwalku berbeda dengan kemarin. Hari ini tiba lebih awal, karena jam 9.30 aku harus sudah ada didalam kelas. Dosenku kali ini tidak akan mengijinkan mahasiswanya untuk masuk setelah ia masuk kedalam kelas. Ia sangat ontime dengan waktu. Setibanya di kelas teman–temanku sudah banyak yang datang. Dan biasa aku langsung menyapa semua. Biar menambah semangat sengaja kukagetkan mereka dengan suara kerasku.

“Pagi, semua!!!”, teriakku dengan nada dipanjang–panjang kan. Teman–temanku ada yang membalas sapaku, ada yang ketawa, senyum dan ada pula yang sedikit marah karena kaget dengan teriakan tadi. Sebenarnya mereka sudah biasa dengan ulahku, karena kejahilan dan mudah bergaul dengan teman – temanku mereka sebenarnya sudah terbiasa dan sampai – sampai dipilihnyalah aku sebagai ketua kelas pada awal masuk semester 3 yang lalu dan sampai sekarang sudah di semester 6 mereka tetap mempercayakan ini kepadaku.

Tak lama kemudian teman–teman yang masih di luar masuk ke kelas seperti domba – domba yang digiring masuk olek gembalanya. Ya meski tanpa mengembik sih sebenarnya. Dan ternyata memang benar di paling akhir, dosen ontime itu masuk layaknya seorang gembala menggiring domba – dombanya masuk ke dalam kandang. Kal ini dia masuk dengan kemeja biru dan santainya duduk di kursi paling depan menghadap para calon sarjana yang siap dimotivasi olehnya.

“Ya, pagi semua”, ucapnya diawal kuliah hari ini.

“Pagi”, balas para calon sarjana komputer serempak.

Lalu di mulainya kuliah pagi ini. Ku akui aku sangat antusias dengan kuliah hari ini ini karena dosen ini mengajar tidak seperti dosen kebanyakan yang hanya membaca slide, duduk dan memberi tugas atau prentasi. Tapi dia santai dan disetiap kali dia mengajar, dia tidak monoton, pasti selalu menyelinginya dengan pengalamannya, memberikan motivasi melalui ceritanya dan memberikan masukan bagi para anak didiknya. Mungkin bukan hanya aku yang merasakan itu, teman – teman yang lain juga merasakan  hal yang sama.

Sambil mendengar dosen itu mulai bercerita mengenai dua orang pegawai yang dikirim atasannya untuk survei ke Afrika untuk melihat pasar disana apakah cocok untuk membuka cabang usaha sepatu disana. Dan ternyata disana belum ada satupun yang memakai alas kaki. Lalu pulang lah mereka untuk melaporkan hasil survey kepada atasan mereka.

“Bagaimana hasil survei kalian?” tanya si Boss.

“Wah Pak, saya sarankan Bapak jangan buka cabang disana”, ujar pegawai pertama dengan nada pesimis.

“Memangnya kenapa?” Tanya sang Boss lagi dengan bingung.

“Begini pak, untuk memakai alas kaki saja mereka tidak mampu apalagi membeli produk kita”, jawab pegawai pertama menjelaskan.

“Oh, begitu ya. Kalau menurut kamu bagaimana?”, kata sang Boss kepada pegawainya yang lain.

“Kalau menurut saya. Kita harus segera membuka cabang disana secepat mungkin. Kalau perlu sekarang juga Pak”, kata pegawai kedua dengan semangat.

“Loh, memang apa alasannya?” kata si atasan bingung sambil menggaruk – garik kepalanya.

“Begini Pak, saya lihat dengan mata saya sendiri. Belum ada satupun penduduk disana memakai alas kaki. Ini akan menjadi peluang besar untuk perusahaan kita”, jelas si pegawai dengan nada optimis meyakinkan atasannya.

Setelah bercerita, dia menjelaskan maksud dari cerita itu agar melihat suatu persoalan dari sisi yang positif dan dia menghubungkan kepada Penulisan Ilmiah yang akan kami dapatkan disemester ini. Semua anak yang awalnya berpikir miris, takut dan pesimis mengenai Penulisan Ilmiah (PI) ini, menjadi lebih terbuka paradigmanya dan optimis untuk menjalani PI yang akan segera datang.

Tak terasa sudah hampir tengah hari setelah dosen dengan rambut dipotong cepak itu mengajar dikelas, kami bisa langsung pulang karena dosen berikutnya tidak masuk karena sudah menginformasikan bahwa hanya akan tatap muka pada minggu pertama di setiap bulan. Lalu aku dan teman-teman ku berencana untuk jalan-jalan dulu ke mal untuk makan siang sebelum pulang ke rumah. Tapi ternyata setelah kami sudah diangkot menuju mall, hujan pun turun deras.

”Yah hujannya gede lagi. Basah deh ni masuk ke mall!”, kata Linda sambil melihat ke kaca.

“Gw ga bawa payung lagi. Habis tadi panas banget sih. Eh sekarang malah hujan”, sahut Puji.

“Sama gw juga gag bawa”, kata Erma temanku. Dia berambut panjang dan aku pernah bilang kalau dia mirip Titi Kamal Cuma bedanya dia lebih gemuk. Dia cukup pintar dan selalu pusing soal kuliah dan tugas.

“Ya udah kita hujan-hujanan ajah sih”, kata Lusi sambil ketawa melihat teman-teman mereka yang takut hujan layaknya seekor kambing.

“Iya langsung lari ya. Ni bentar lagi sampai. Tutupin ajah pakai tas”, timpalku.

Tapi aku tersadar bahwa aku baru baikan dari alergiku semalam. Dan itu juga tidak sampai ke dokter karena dicegah dengan minum obat alergi sebelum tidur. Kalau sampai hujan-hujanan dan basah kuyup bisa-bisa alergiku kambuh lagi. Kemarin saja aku sudah parno, kalau sampai alergi lagi aku pasti kapok.

Selagi aku berbicara dalam hati ternyata sudah sampai, sudah  ada anak-anak kecil yang menjadi ojek payung tapi hanya tersisa dua. Langsung saja kusuruh teman-teman cewekku untuk pakai payung mereka.

“Sudah kalian duluan ajah. Aku ntar lari nyusul dibelakang kalian”, kataku sambil mengambilkan payung dari anak-anak yang sudah menunggu orang-orang yang mau menyebrang ke mall. Lalu mereka segera menyebrang memakai payung dan aku lari dibelakang setelah mereka agak jauh.

Sesampainya di lobi mall tiba-tiba badanku mengigil dan tanganku terasa gatal, kubuka lengan kemejaku, tanganku kembali merah. Tapi aku tidak mau kembali cemas karena alergiku. Karena kemarin malam cukup minum obat saja, besok paginya sudah baikan. Aku langsung menyusul teman-temanku sambil kembali menurunkan lengan kemejaku.

Apakah Patra kembali merasa alergi?? Apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh Patra??Atau hanya kedinginan akibat hujan-hujanan?? Kita lihat kelanjutannya.